Jumat, 10 Agustus 2012

KEDIRI SENTRA KEMUCENG / SULAK MURAH


Kemoceng / sulak adalah suatu alat pembersih debu yang umumnya terbuat dari bulu - bulu ayam yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan suatu alat yang benar - benar sudah pas sebagai fungsi alat pembersih debu. Di kota kediri terdapat sebuah kelurahan yang hampir sebagian warganya adalah pengrajin kemuceng / sulak, yang mempunyai berbagai macam design yang terbaru dan mempunyai kwalitas yang sangat bagus, karena kwalitasnya sangat bagus dan harganya dijamin sangat murah maka kemuceng yang di produksi sudah merambah ke pasar eksport yaitu ke negara tujuan belanda, Kemuceng hasil buatan masyarakat disini bisa diperbandingkan harga dan kualiasnya dengan kemucing lain, dan kami menjamin dengan kualitas yang sama maka harga ditempat kami pasti lebih murah.....

KEDIRI GUDANGNYA IKAN CUPANG MURAH



Budi daya ikan cupang cocok sekali bagi anda yang minim lahan. Sebab Untuk membudiayakan atau mengembangkan ikan cupang hias tidaklah memerlukan lahan yang luas, cukup menyediakan areal sekitar 5 meter persegi.
Di daerah perkotaan yang umumnya minim lahan, para pem budidaya ikan cupang banyak yang menggunakan dak rumah, wadah bekas, kolam bak semen, atau aquarium, sebagai tempat budidaya.
Ikan cupang relatif mudah dipelihara dan dibudidayakan, karena tidak memerlukan pakan khusus. Untuk benih, biasanya diberi pakan alami berupa kutu air atau daphnia sp. Ini anda bisa menyiasatinya dengan menciptakan selokan sendiri dengan air yang tergenang. Intinya buatlah semacam habitat yang mudah di hidupi oleh kutu air.
Benih akan lebih cepat pertumbuhannya jika makanannya di selingi dengan cacing rambut. Untuk induk cupang, makanannya berupa jentik-jentik nyamuk (cuk). Jentik-jentik nyamuk biasanya mudah tumbuh di air-air yang tergenang. Anda dengan mudah pasti bisa membuatnya
D kota kediri terdapat suatu kelurahan yang sebagian warganya membudidayakan ikan cupang berbagai jenis,  yang hasil dari produksinya sudah menyebar di berbagai kaota di indonesia bahkan pernah sampai dieksport ke malaysia, itu dikarenakan hasil produksi ikan cupang dari kediri mempunyai kualitas yang sangat bagus dan harga yang sangat - sangat murah, kalo tidak mempunyai kualitas yang bagus dan harga yang sangat murah tidak mungkin usaha produksi ikan cupang di kediri bisa berkembang pesat sehingga pernah menyabet juara 1 produksi ikan cupang tingkat nasional...
Bandingkan saja harga seekor ikan cupang serit usia lancur cuma seharga Rp 600 - Rp 750,- . makanya banyak pemborong yang mengirim hasil produksi ikan cupang dari kediri sampai ke sumatra dan kalimantan bahkan sampai ke malaysia...
Dan bila anda kesulitan bibit ikan cupang maka kota kediri adalah jawabannya dikarenakan di kota kediri mempunyai sentra produksi ikan cupang dengan harga yang sangat - sangat murah, bila tidak percaya silahkan buktikan....
Demapan sejahtera siap memenuhi pesanan ikan cupang yanga anda butuhkan, .....

Peluang Usaha Budidaya Belut



Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.
Budidaya Belut yang Semakin Menguntungkan
Lantaran peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut. Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.
Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. “Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan,” kata Herman.
Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2×5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.
Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.
Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. “Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing,” katanya. Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut.
Pemain lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15-20 cm. “Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujarnya.
Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20 persen-30 persen. “Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah,” ujarnya.
Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.
Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. “Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat,” kata Herman.
Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. “Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan,” jelasnya.
Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.
Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya.  Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2×5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.
Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. “Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut,” katanya.
Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). “Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk,” jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan.
Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. “Keunggulan cara ini tidak perlu lahan.” ujarnya.
Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20 hingga 50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15 cm-20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” ujarnya. (*/Kontan.co.id/ian)